Kamis, 25 April 2013

Karya Tulis Ilmiah_Tugas Muskuloskeletal 2


Karya Tulis Ilmiah
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN AMBULASI DINI PADA PASIEN PASCA OPERASI FRAKTUR EKSTREMITAS BAWAH



Oleh :
Kelompok 7 / S1-3B

                 
1. Ajeng Kristia Ardini                                      101.0004
2. Aruna Irani                                                   101.0010
3. Christin Shelvy Novianti                                101.0016
4. Farah Elva Febriana                                      101.0040
5. Yusuf Afandi                                                101.0118


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2013


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh cidera, trauma yang mengakibatkan fraktur dapat berubah trauma langsung maupun tidak langsung (Sjamsuhidat & Jong, 2005). Penanganan fraktur pada ekstremitas bawah dapat dilakukan secara konservatif dan operasi sesuai dengan tingkat keparahan fraktur dan sikap mental pasien (Smeltzer & Bare, 2002). Operasi adalah tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani (Sjamsuhidat & Jong, 2005). Prosedur pembedahan yang sering dilakukan pada pasien fraktur meliputi reduksi terbuka dan fiksasai interna (open redaction and internal fixation /ORIF). Sasaran pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan, stabilitas, mengurangi nyeri dan disatibilitas (Smeltzer & Bare, 2002). Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien pasca operasi dimulai dari bangun dan duduk disisi tempat tidur sampai pasien turun dari tempat tidur, berdiri dan mulai belajar berjalan dengan bantuan alat sesuai kondisi pasien (Roper, 2002). Beberapa literatur menyebutkan manfaat ambulasi adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah atau mengurangi komplikasi imobilisasi pasca operasi, mempercepat proses pemulihan pasien pasca operasi (Craven & Hirlen, 2009). Catatan perbandingan memperlihatkan bahwa frekwensi nadi dan suhu tubuh kembali kenormal lebih cepat bila pasien berupaya untuk mencapai tingkat aktivitas normal praoperatif secara mungkin. Akhirnya lama pasien dirawat dirumah sakit memendek dan lebih murah, yang lebih jauh merupakan keuntungan bagi rumah sakit dan pasien (Brunner & Suddarth, 2002).
Menurut Saryono (2008) keterbatasan ambulasi akan menyebabkan otot kehilangan daya tahan tubuh, penurunan massa otot dan penurunan stabilitas. Pengaruh penurunan kondisi otot akibat penurunan aktivitas fisik akan terlihat jelas dalam beberapa hari. Massa tubuh yang membentuk sebagian otot mulai menurun akibat peningkatan pemecahan protein. Pada individu normal dengan kondisi tirah baring akan mengalami keterbatasan gerak fisik (Perry & Potter, 2006).
Dukungan keluarga dan melibatkan orang terdekat selama perawatan meminimalkan efek gangguan pisikososial (Saryono, 2008). Efek gangguan psikososial seperti orang yang defresi, atau cemas sering tidak tahan melakukan aktivitas atau mobilisasi, karena mereka mengeluarkan energy yang cukup besar sehingga mudah lelah (Perry & Potter, 2006). Menurut penelitian Yanti (2010) dukungan sosial mempengaruhi pelaksanaan ambulasi dini pada pasien pasca operasi ekstremitas bawah. Kurang pengetahuan tentang kegunaan pergerakan fisik merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kerusakan mobilitas fisik (Saryono, 2008).
Menurut World Health Organization (WHO) (2004) dalam penelitian Nasution (2010) cidera akibat kecelakaan lalu lintas tertinggi dijumpai beberapa Negara Amerika Latin (41, 7%), Korea Selatan (21,9%), Thailand (21%). Di Indonesia kecelakaan lalu lintas meningkat dari tahun ketahun. Menurut data Direktorat Keselamatan Transformasi Darat Departemen Perhubungan (2005) jumlah korban kecelakaan lalu lintas tahun 2005 terdapat 33.827 orang. Data Kepolisian RI tahun 2009 terdapat 57.726 kasus kecelakaan di jalan raya, maka dalam setiap 9,1 menit sekali terjadi satu kasus kecelakaan. Tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 organisasi kesehatan tingkat dunia WHO menetapkan sebagai “Dekade Tulang dan Persendian” (Ariotejo, 2009). WHO mencatat, hingga saat ini sebanyak 50 juta orang lainnya menderita luka berat. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab fraktur (patah tulang) terbanyak (Departemen Perhubungan, 2010). Dalam penelitian ini faktor-faktor yang diteliti faktor nyeri, dukungan keluarga, dan pengetahuan.







1.2. Rumusan Masalah
a.       Bagaimana pelaksanaan ambulasi dini?
b.      Bagaimana penatalaksanaan pasien pasca operasi fraktur ekstremitas bawah?
c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan ambulasi dini pada pasien pasca operasi fraktur ekstremitas bawah?























BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Fraktur
2.1.1. Definisi Fraktur
Batasan yang dikemukakan oleh para ahli tentang fraktur. Fraktur merupakan suatu kondisi dimana terputusnya kontinuitas jaringan tulang yg umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, Arif, et al, 2000). Sedangkan menurut Linda Juall C. dlm buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yg disebabkan tekanan eksternal yg datang lebih besar dr yg dpt diserap oleh tulang. Pernyataan ini sama yg diterangkan dlm buku Luckman and Sorensen’s Medical Surgical Nursing. Sedangkan menurut Smeltzer (2002) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
Fraktur dikenal dengan istilah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitarnya akan menentukan apakah fraktur yang terjadi disebut lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia A. Price, 1999). Pada beberapa keadaan trauma muskuloskeletal, sering fraktur dan dislokasi terjadi bersamaan. Dislokasi atau luksasio adalah kehilangan hubungan yang normal antara kedua permukaan sendi secara komplet/lengkap. Fraktur dislokasi diartikan dengan kehilangan hubungan yang normal antara kedua permukaan sendi disertai fraktur tulang persendian tersebut. (Jeffrey M. Spivak et al, 1999).
Disimpulkan bahwa, fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma.


2.1.1        Etiologi
Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang melebihi kemampuan tulang dalam menahan tekanan. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik, tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal, tekanan sepanjang aksis tulang yang menyebabkan fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi, kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau memecah, misalnya pada badan vertebra, talus, atau fraktur buckle pada anak-anak.
Fraktur disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki, biasanya fraktur terjadi pada umur di bawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan kecelakaan kendaraan bermotor.
Pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon pada menupause.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa fraktur terjadi karena 3 hal yaitu :
a)        Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pd titik tjdnya kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
b)        Kekerasan tdk langsung
Kekerasan tdk langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
c)        Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.


2.1.2        Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepituis, pembengkakan lokal, dan perubahan warna. Gejala umum fraktur adalah :
a)        Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk badai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b)        Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigit seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
c)        Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2 inchi).
d)       Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan fragmen yang lainnya.
e)        Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengakibatkan fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.

2.1.3        Klasifikasi Fraktur
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi utk alasan yg praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1)      Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
a.       Faktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
b.      Fraktur terbuka (open/ compound),  bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.

2)      Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur
a.         Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
b.        Fraktur inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
1.      Hair line fraktur (patah garis rambut)
2.      Buckle atau torus fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
3.      Green stick fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.

3)      Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.
a.         Fraktur transversal : fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b.        Fraktur oblik : fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga.
c.         Fraktur spiral : fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
d.        Fraktur kompresi : fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
e.         Fraktur avulsi : fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.



4)      Berdasarkan jumlah garis patah
a.         Fraktur komunitif : fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
b.        Fraktur segmental : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
c.         Fraktur multiple : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.

5)      Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
a.         Fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.
b.        Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
1.    Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah  sumbu dan overlapping).
2.    Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
3.    Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

6)      Berdasarkan posisi fraktur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : 1/3 proksimal; 1/3 medial; 1/3 distal.
a.       Fraktur kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
b.      Fraktur patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1.        Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
2.        Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
3.        Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4.        Tingkat 3 : cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.


















Komplikasi Fraktur
a)        Komplikasi Awal
a.       Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b.      Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan embebatan yang terlalu kuat.

c.       Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
d.      Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
e.       Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
f.       Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pd fraktur.
b)        Komplikasi Dalam Waktu Lama
1)      Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
2)      Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3)      Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
2.1.4        Proses Penyembuhan
Proses penyembuhan tulang diantaranya adalah :
a)      Hematom
Dari pembuluh darah yang pecah, dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan terjadi hematoma di sekitar fraktur. Setelah 24 jam suplai darah ke ujung fraktur meningkat, hematoma ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.
b)      Proliferasi sel
Sel sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur, di mana sel sel ini menjadi precusor dari osteoblast, osteogenesis ini berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi tulang. Setelah beberapa hari kombinasi dari periosteum yang meningkat dengan fase granulasi membentuk collar di ujung fraktur.
c)      Pembentukan callus
Enam sampai sepuluh hari setelah fraktur jaringan granulasi berubah dan membentuk callus. Sementara pembentukan cartilago dan matrik tulang diawali dari jaringan callus yang lunak. Callus ini bertambah banyak, callus sementara meluas, menganyam massa tulang dan cartilago sehingga diameter tulang melebihi normal. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan kekuatan callus sementara ini meluas melebihi garis fraktur.


d)     Ossification
Callus yang menetap / apermanen menjadikan tulang kaku karena adanya penumpukan garam garam calcium dan bersatu bersama ujung ujung tulang. Proses ossifikasi ini mulai dari callus bagian luar kemudian bagian dalam dan terakhir bagian tengah. Proses ini terjadi selama 3 -10 minggu.
e)      Konsolidasi dan remodeling
Pada waktu yang sama pembentukan tulang yang sebenarnya callus dibentuk dari aktivitas osteoblast dan osteoklast. Kelebihan kelebihan tulang seperti dipahat dan diabsorbsi dari callus.

2.1.5        Faktor Mempengaruhi Penyembuhan
Proses pembentukan lagi ditentukan oleh beban tekanan dari otot. Reduksi fragmen tulang yang bergeser harus benar‑benar akurat dan dipertahankan dengan sempuma agar penyembuhan benar‑benar terjadi. Tulang yang terkena harus mempunyai peredaran darah yang rnemadai. Usia pasien dan jenis fraktur juga berpengaruh pada waktu penyembuhan. Secara umum, patah pada tulang pipih (pelvis, skapula) sembuh cukup cepat. Patah pada ujung tulang panjang, di mana tulang lebih vaskuler (pertengahan batang tulang panjang). Pembebanan berat badan akan merangsang penyembuhan pada fraktur panjang yang telah stabil pada ekstremitas bawah. Selain itu, aktivitas akan meminimalkan terjadi­nya osteoporosis yang berhubungan dengan aktivitas (reduksi masa total, menghasilkan tulang porotik dan rapuh akibat ketdkseimbangan homeostasis, pergan­tian tulang). Tabel 64‑1, menunjukkan perkiraan waktu imobilisasi yang diperlukan untuk penyatuan pada jenis fraktur yang biasa.
Bila penyembuhan fraktur terhambat, waktu penyatu­an tulang mengalami keterlambatan atau berhenti total. Faktor yang dapat menghambat penyembuban  meliputi asupan darah yang tak memadai ke tempat fraktur atau jaringan sekitarnya, jarak antara fragmen tulang yang ekstensif, imobilisasi tulang yang tidak memadai, infeksi, komplikasi dari penanganan, dan kelainin metabolisme.
Penyembuhan dipengaruhi oleh :
1.      Nutrisi adekuat.
2.      Kalsium.
3.      Posfor.
4.      Protein.
5.      Vitamin D.
6.      Penyakit sistemik à penyakit pd vaskuler à menurunkan suplai darah pada saat penyembuhan.
7.      Penurunan estrogen.

2.1.6        Pemeriksaan Penunjang
a.       Radiologi pada dua bidang (cari lusensi dan diskontimuitas pada korteks tulang).
b.      Tomografi, CT Scan, MRI (jarang).
c.       Ultrasonografi dan scan tulang dengan radioisotop. (scan tulang terutama berguna ketika radiologi/ CT Scan memberikan hasil negatif pada kecurigaan fraktur secara klinis.

2.1.7        Penatalaksanaan
  1. Terapi konservatif
a.       Proteksi saja
Misalnya mitella utk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik.
b.      Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkoplit dan fraktur dengan kedudukan baik.
c.       Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Misalnya fraktur distal radius, immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi pergelangan.

d.      Traksi
Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga penuh / dipasang gips setelah tidak sakit lagi.
  1. Terapi operatif
Terapi operatif dengan reposisi secara tetrtutup dengan bimbingan radiologis.
a.       Reposisi tertutup – Fiksasi externa
Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang alat fiksasi externa.
b.      Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna, misalnya reposisi tertutup fraktur condylair humerus pada anak diikuti dengan pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup fraktur colum pada anak diikuti pinning dan immobilisasi gips. Cara ini sekarang terus berkembang menjadi “Close Nailing” pada fraktur femur dan tibia yaitu pemasangan fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka frakturnya.
a.       Therapi operatif dengan membuka frakturnya
1)      Reposisi terbuka dan fiksasi interna à ORIF (Open reduction and internal fixation)
2)      Keuntungan cara ini adalah : reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
3)      Indikasi ORIF :
a)      Fraktur yang tdk bisa sembuh atau bahaya avanculair tinggi  misalnya : fraktur talus dan fraktur collum femur
b)      Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup, misalnya : fraktur avulsi dan fraktur dislokasi
c)      Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan, misalnya ; fraktur monteggia, fraktur galeazzi, fraktur antebrachi, dan fraktur pergelangan kaki
d)     Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang glabih baik dengan operasi, misalnya : fraktur femur.
b.      Excisional Arthrplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi, misalnya : fraktur caput radii pada org dewasa, dan fraktur collum femur yang dilakukan operasi.
c.       Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
1)      Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis / yang lainnya.
2)      Sesuai tujuan pengobatan fraktur yaitu untuk mengembalikan fungsi maka sejak awal harus dipertimbangkan latihan-latihan untuk menceegah atropi otot dan kekakuan sendi, disertai mobilisasi dini.

  1. Pengobatan fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan dengan segera. Tindakan sugah harus dimulai dari fase pra - Rumah sakit :
a.       Pembidaian.
b.      Menghentikan perdarahan dengan verban tekan.
c.       Mengehentikan perdarahan besar dengan klem.

Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena 40% dari fraktur terbuka merupakan kasus polytrauma. Tindakan life-saving harus segera didahulukan dalam rangka kerja terpadu (Team – work).
2.2. Konsep Dasar Ambulasi Dini
2.2.1. Pengertian Ambulasi Dini
Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien pasca operasi dimulai dari bangun dan duduk disisi tempat tidur sampai pasien turun dari tempat tidur, berdiri dan mulai belajar berjalan dengan bantuan alat sesuai kondisi pasien. (Roper, 2002). Beberapa literatur menyebutkan manfaat ambulasi adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah atau mengurangi komplikasi imobilisasi pasca operasi, mempercepat proses pemulihan pasien pasca operasi (Craven & Hirlen, 2009). Catatan perbandingan memperlihatkan bahwa frekwensi nadi dan suhu tubuh kembali ke normal lebih cepat bila pasien berupaya untuk mencapai tingkat aktivitas normal praoperatif secara mungkin. Akhirnya lama pasien dirawat dirumah sakit memendek dan lebih murah, yang lebih jauh merupakan keuntungan bagi rumah sakit dan pasien (Brunner & Suddarth, 2002).
2.2.2. Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Ambulasi
Beberapa faktor yang mempengaruhi mekanik tubuh dan ambulasi, diantaranya status kesehatan, nutrisi, emosi, kebiasaan, gaya hidup dan pengetahuan. Status kesehatan, dapat mempengaruhi sistem muskuluskletal dan system persyarafan yang berupa menurunnya koordinasi. Perubahan tersebut dapat di sebabkan karena penyakit, kurangnyakemampuan untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan lain- lain. Nutrisi, fungsi nutrisi bagi tubuh salah satunya adalah untuk proses pertumbuhan tulang, dan memegang peran penting dalam perbaikan sel. Kekurangan nutrisi bagi tubuh dapat menjadikan seseorang mengenai kelemahan otot dan memudahkan terjadinya penyakit, seperti apabila tubuh kekurangan kalsium maka akan memudahkan tubuh terjadi fraktur (Aziz Alimul Hidayat, 2012).
Kondisi psikologis seseorang dapat memudahkan perubahan dalam perilaku yang berdampak pada kemapuan untuk mekanik tubuh dan ambulasi dengan benar. Kondisi demikian dapat terlihat apabila seseorang mengalami perasaan yang tidak aman, tidak bersemanagat dan perasaan harga diri yang rendah maka akan memudahkan terjadi perubahan dalam mekanik tubuh dan ambulasi. Situasi dan kebiasaan, dapat mempengaruhi mekanik tubuh dan ambulasi, hal ini terjadi apabila seseorang sering  mengangkat berat maka akan terjadi perubahan mekanik tubuh dan ambulasi. Gaya hidup perubahan pola hidup seseorang dapat terjadi stres dan kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan dalam aktifitas sehingga akan terjadi gangguan dalam  koordinasi antara sistem muskuluskletal dan neurologi energy, akhirnya akan terjadi perubahan dalam penggunaan mekanik tubuh secara benar. Pengetahuan yang baik terhadap penggunaan mekanik tubuh akan mendorong seseorang untuk mempergunaknnya secara benar, sehingga akan mengurangi energi yang telah dikeluarkan, demikian sebelumnya pengetahuan rendah dalam penggunaan mekanik tubuh akan menjadikan seseorang beresiko terjadi angguan dalam koordinasi sistem neurologi dan muskuluskletal (Musrifatul Uliyah, 2012).
Menurut Saryono (2008) keterbatasan ambulasi akan menyebabkan otot kehilangan daya tahan tubuh, penurunan massa otot dan penurunan stabilitas. Pengaruh penurunan kondisi otot akibat penurunan aktivitas fisik akan terlihat jelas dalam beberapa hari. Massa tubuh yang membentuk sebagian otot mulai menurun akibat peningkatan pemecahan protein. Pada individu normal dengan kondisi tirah baring akan mengalami keterbatasan gerak fisik (Perry & Potter, 2006).
2.2.3. Prosedur Latihan Ambulasi
Latihan ambulasi dini dapat dilakukan di atas tempat tidur, turun dari tempat tidur, berdiri, kemudian duduk di kursi roda, membantu berjalan, dan memindahkan pasien ke branchard. Adapun Prosedur kerja latihan ambulasi adalah sebagai berikut :
a.       Duduk di atas tempat tidur
1)      Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
2)      Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan disamping badannya dengan telapak tangan menghadap ke bawah.
3)      Berdirilah di samping tempat tidur dan letakkan tangan pada bahu pasien.
4)      Bantu pasien untuk duduk dan beri penopang atau bantal.

b.      Turun dari tempat tidur, berdiri, kemudian duduk di kursi roda
1)      Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
2)      Pasang kunci kursi roda.
3)      Berdirilah menghadap pasien dengan kedua kaki merenggang.
4)      Tekuk sedikit lutut dan pinggang anda.
5)      Anjurkan pasien untuk meletakkan kedua tangannya di bahu Anda.
6)      Letakkan kedua tangan Anda di samping kanan dan kiri pinggang pasien.
7)      Ketika kaki pasien menapak di lantai, tahan lutut Anda pada lutut pasien.
8)      Bantu pasien berdiri tegak dan berjalan sampai di kursi roda.
9)      Bantu pasien duduk di kursi roda dan atur posisi agar nyaman.

c.       Membantu berjalan
1)      Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
2)      Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan di samping badan atau memegang telapak tangan anda.
3)      Berdiri di samping pasien, pegang telapak tangan dan lengan bahu pasien.
4)      Bantu pasien berjalan.

d.      Memindahkan pasien ke branchard
Prosedur memindahkan pasien dari tempat tidur ke branchard dilakukan pada pasien yang tidak dapat atau tidak boleh berjalan sendiri. Prosedur kerja :
1)      Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
2)      Atur branchard pada posisi terkunci.
3)      Lakukan prosedur ini dengan bantuan 2-3 perawat.
4)      Berdiri menghadap pasien.
5)      Silangkan tangan di depan dada.
6)      Tekuk lutut Anda kemudian masukkan tangan ke bagian bawah tubuh pasien.
7)      Perawat pertama meletakkan tangan di bawah leher atau bahu dan di bawah pinggang. Perawat kedua meletakkan tanagan di bawah panggul dan kaki pasien.
8)      Angkat pasien bersama-sama dan pindahkan ke branchard.
9)      Atur posisi pasien yang nyaman di branchard.

2.2.4. Evaluasi Latihan Ambulasi
Evaluasi keperawatan untuk masalah mekanika tubuh, dan ambulasi dapat dilihat dari kemampuan pasien dalam menggunakan makanika tubuh dan ambulasi / mobilisasi dengan baik, mennggunakan alat bantu gerak, memperbaiki cara menggapai benda, naik dan turun, serta berjalan.










BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN

Rancangan penelitian adalah hasil ukur dari suatu/ tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan suatu penelitian biasa diterapkan (Nursalam, 2008). Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yaitu penelitian yang mengkaji hubungan antar variabel (Hidayat, 2007).
Penelitian ini dilakukan di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Pemilihan RSUD Arifin Achmad sebagai tempat penelitian karena rumah sakit pendidikan dan rumah sakit rujukan yang memiliki fasilitas dan pelayanan bedah ortopedik yang cukup lengkap diindonesia bagian barat, sehingga memungkinkan mendapatkan jumlah sampel yang sesuai dengan kriteria penelitian
Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh pasien dengan pasca operasi fraktur ekstremitas bawah yang dirawat di Ruang Cendrawasih II RSUD Arifin Achmad pada saat melakukan penelitian. ). Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti, sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008). Besar sampel yang digunakan yaitu sebesar 30 orang, yaitu jumlah sampel minimal yang harus dipenuhi dalam penelitian kuantitatif (Burn & Grove, 2005).
Alat ukur kuesioner penelitian, kuesioner ini terdiri dari bagian pertama yang berisi pertanyaan demografi dengan pertanyaan terbuka yang meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan jenis pembedahan. Sedangkan jumlah pertanyaan pada kuesioner penelitian ada 40 pertanyaan terdiri dari 20 pernyataan dukungan keluarga dengan menggunakan Skala Likert, SS (Sangat sering), J (Jarang), TP (Tidak pernah), S (sering), 20 pertanyaan untuk pengetahuan, pada pelaksanaan ambulasi dini menggunakan lembar observasi sebanyak 5 pernyatan, observasi dilakukan setelah selesai melakukan uji validitas dilakukan selama 3 hari dari jam 08-12.00 WIB, pada nyeri menggunakan rentang/skala nyeri. Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, peneliti melakukan uji coba instrumen yang dilakukan di RSUD Arifin Achmad sebanyak 20 responden, tujuannya untuk menguji validitas dan realibilitas dengan alat pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yang berupa kuesioner.
Dari uji validitas terhadap 20 responden (n=20) pada tingkat kemaknaan 5% r tabel=0.468. Hasil analisis untuk pertanyaan pengetahuan didapatkan nilai yang valid 0.508-0.795. Pada uji validitas didapatkan 15 pertanyaan yang valid. Kemudian dilakukan uji realibilitas dengan membandingkan alpha dengan r tabel dimana diperoleh alpha 0.914 didapatkan alpha > dari r tabel maka pertanyaan dinyatakan reliabel. Pada hasil validitas pada dukungan keluarga dengan 20 pernyataan diperoleh r hitung dengan rentang 0.468-0.831 dengan r tabel 0.468. pada uji validitas didapatkan 10 yang valid. Kemudian dilakukan uji reliabel membandingkan alpha dengan r tabel dimana diperoleh alpha 0.785 dengan r tabel 0.468 didapatkan alpha > r tabel maka pernyataan dinyatakan reliabel.

Defenisi Operasional

Variable
Definisi operasional
Alat ukur
Skala
Hasil ukur berdasarkan cut of point
Nyeri
Skala nyeri pasien pasca operasi fraktur ekstremitas bawah mempengaruhi pelaksanaan ambulasi dini
Skala nyeri
Ordinal
·     Nyeri ringan 0-3
·     Nyeri sedang 4-6
·     Nyeri berat   7-10
Pengetahuan
Tentang pengertian ambulasi, manfaat ambulasi pada pasien ekstremitas bawah
Kuesioner
Ordinal
·      Tinggi median > 7
·      Rendah median < 7
Dukungan keluarga
Dukungan psikologi berupa motivasi dan bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga dan orang lain dalam pelaksanaan ambulasi dini.
Kuesioner
Ordinal
·      Positif median > 29
·      Negative median < 29
Pelaksanaan ambulasi
Tahapan pelaksanaan ambulasi dini pada pasien fraktur pasca operasi ekstremitas bawah.
Kuesioner
Checklist
·      Dilakukan : 5
·      Kurang dilakukan : 0-4

Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor terhadap pelaksanaan ambulasi dini pasien pasca operasi ekstremitas bawah. Setelah data terkumpul kemudian di tabulasi dalam tabel yang sesuai dengan variabel yang hendak di ukur. Setelah proses tabulasi untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh di gunakan uji Chi-Square dimana untuk menguji jenis kategorik dengan kategorik. Uji Fisher digunakan untuk data yang tabelnya 2x2 yaitu pengetahuan dan dukungan keluarga sedangkan untuk uji Pearson Chi-square digunakan untuk data skala nyeri karena tabelnya 3x2 dengan status derajat kemaknaan (α=0,05). Apabila dari uji statistik di dapatkan p value < α (0,05), maka dapat dikatakan ada faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan ambulasi dini pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah.

HASIL PENELITIAN
Karakteristik demografi responden . Distribusi frekuensi karakteristik demografi responden
Karakteristik
Frekuensi
Presentase (%)
Umur :
Dewasa muda
Dewasa pengetahuan
Dewasa tua

Jenis kelamin :
Laki-laki
Perempuan

Pendidikan :
SD
SMP
SMA
Perguruan tinggi
Pekerjaan :
Tidak bekerja
PNS / TNI / POLRI
Wiraswasta
Petani
Buruh
Lain-lain

Jenis pembedahan:
ORIF
Pen

16
4
10


20
10


7
9
11
3

9
0
17
4
0
0


16
14


53,3
13,3
33,3


66,7
33,7


23,3
30,7
36,7
10,7

30
0
56,7
13,3
0
0


53,3
56,7


Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa dari 30 responden menunjukkan umur responden dewasa muda sebanyak 16 responden (53,3%), umur responden dewasa tua sebanyak 10 responden (33,3%) dan umur responden dewasa pertengahan sebanyak 4 responden (13,3%). Sedangkan jenis kelamin responden laki-laki sebanyak 20 responden (66,7%) dan responden perempuan sebanyak 10 responden (33,7%). Untuk pendidikan responden SMA sebanyak 11 responden (36,7%), responden SMP 9 responden (30,7%), responden SD sebanyak 7 responden (23,3%) dan responden perguruan tinggi sebanyak 3 responden (10,7%). Untuk jenis pekerjaan responden wiraswasta sebanyak 17 responden (56,7%), responden yang tidak bekerja sebanyak 9 responden (3%) dan responden petani sebanyak 4 responden (13,3%). Sedangkan untuk jenis pembedahan responden orif sebanyak 16 responden (53,3%) dan jenis pembedahan pen sebanyak 14 responden (56,7%). Hubungan faktor nyeri terhadap pelaksanaan ambulasi dini :

Tabel 7. Hubungan nyeri terhadap terlaksananya ambulasi dini.


Nyeri
Ambulasi dini
Jumlah


Dilakukan
Kurang dilakukan
F
%
F
%
F
%
1.      Nyeri ringan
0
0
3
100
3
100
2.      Nyeri sedang
2
10
18
90
20
100
3.      Nyeri hebat
2
28,6
5
71,4
7
100
Total
4
13,3
26
86,7
30
100


Hasil analisa hubungan nyeri dengan terlaksananya ambulasi dini pada pasien fraktur pasca operasi ekstremitas bawah menunjukkan bahwa dari 30 orang responden terdapat nyeri sedang sebanyak 20 responden (66,7%), yang melakukan ambulasi dini sebanyak 2 responden (10%) dan 18 responden yang tidak melakukan ambulasi dini , untuk nyeri hebat terdapat 7 responden (23,3%), yang melakukan ambulasi dini sebanyak 2 responden (28,8%) dan 5 responden (71,4) yang tidak melakukan ambulasi dini sedangkan pada nyeri ringan terdapat 3 responden (10%), yang melakukan ambulasi dini tidak ada sedangkan yang tidak melakukan ambulasi dini sebanyak 3 responden (100%).
Hasil uji Chi-square dengan menggunakan uji Pearson Chi-square menunjukkan p sebesar .357 dimana p > 0.05. Hal ini berarti bahwa H0 gagal ditolak dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara nyeri dengan dengan terlaksananya ambulasi dini.




Tabel 8 : Hubungan pengetahuan terhadap pelaksanaan ambulasi dini.

Pengetahuan
Ambulasi dini
Jumlah


Dilakukan
Kurang dilakukan
F
%
F
%
F
%
1.      Rendah
2
2,5
4
7,5
16
100
2.      Tinggi
2
14,3
12
85,7
14
100
Total
4
13,3
26
86,7
30
100


Hasil analisa hubungan pengetahuan dengan terlaksananya ambulasi dini pada pasien fraktur pasca operasi ekstremitas bawah menunjukkan bahwa dari 30 responden terdapat16 responden (53,3%), yang melakukan ambulasi dini sebanyak 2 responden (12,5%) dan 14 responden (87,5%) yang tidak melakukan ambulasi dini. Sedangkan pada pengetahuan tinggi terdapat 14 reponden (46,7%), yang melakukan ambulasi dini sebanyak 2 responden (14,3%) dan 12 responden (85,7%) yang tidak melakukan ambulasi dini.
Hasil uji Chi-square dengan menggunakan uji Fisher menunjukkan p sebesar 1.000 dimana p > 0.05. hal ini berarti bahwa H0 ditolak dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan terlaksananya ambulasi dini. Hubungan faktor dukungan keluarga terhadap pelaksanaan ambulasi dini.

Tabel 9 : Hubungan dukungan keluarga terhadap terlaksananya ambulasi dini.

Dukungan keluarga 
Ambulasi dini
Jumlah


Dilakukan
Kurang dilakukan
F
%
F
%
F
%
1.      Positif
12
70,6
5
29,4
17
100
2.      Negatif
2
15,4
11
84,6
13
100
Total
14
46,7
16
53,3
30
100






Hasil analisa hubungan dukungan keluarga dengan terlaksananya ambulasi dini pada pasien fraktur ekstremitas bawah menunjukkan bahwa dari 30 responden terdapat dukungan keluarga positif sebanyak 17 responden (56,7%), yang melakukan ambulasi dini sebanyak 12 responden (70,6%) dan 5 responden (29,4%) yang kurang melakukan ambulasi dini. Sedangkan pada responden yang mendapat dukungan negatif sebanyak 13 responden (43,4%), yang melakukan ambulasi dini sebanyak 2 orang responden (15,4%) dan 11 responden (84,6%) yang tidak melakukan ambulasi dini.
Hasil uji Fisher menunjukkan p sebesar .004 dimana p < 0.05. hal ini berarti bahwa H0 diterima dan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan terlaksananya ambulasi dini.





















BAB 4
PEMBAHASAN

Berdasarkan dari hasil penelitian bahwa mayoritas umur responden pada pasien fraktur berada pada dewasa muda sebanyak 16 responden (53,3%). Fraktur lebih sering terjadi pada umur dibawah 45 tahun yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor (Reeves, Roux & Lockhart 2001). Jenis kelamin laki-laki sebanyak 20 responden (66,7%) dimana dari hasil penelitian dapat dilihat laki-laki lebih dominan yang terkena fraktur ini dikarenakan laki-laki lebih cenderung memakai kenderaan bermotor yang ugal-ugalan di jalan. Tingkat pendidikan mayoritas responden berpendidikan SMA sebanyak 11 responden (36,7%). Menurut Notoadmodjo (2003) juga mengatakan bahwa tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuannya. Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi akan memppunyai pengetahuan yang luas bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Jadi dapat disimpulakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat pengetahuan yang dimiliki, karena semakin mudah informasi yang dibutuhkan. Serta mayoritas responden pekerjaannya wiraswasta sebanyak 17 responden (56,7%), menurut Evans dalam penelitian Putra (2010) walaupun mayoritas penelitian yang bekerja yang mengalami fraktur, namun hal tersebut tidak mempengaruhi terjadinya fraktur karena frajtur juga dapat menimpa pekerjaan apa saja. Tipe pembedahan responden mayoritas ORIF sebanyak 16 orang (53,3%).
Hasil uji statistik pearson Chi-square pada nyeri didapatkan nilai p=0.357 karena p > 0.05. dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara nyeri terhadap pelaksanaan ambulasi dini pada pasien fraktur pasca operasi ekstremitas bawah. Ini tidak sejalan dengan pendapat Brunner & Suddarth (2002) yang menyatakan bahwa kebanyakan pasien merasa takut untuk bergerak setelah pasca operasi fraktur karena merasa nyeri pada luka bekas operasi dan luka bekas trauma. Menurut Sjamsuhidat & Jong (2005) menyatakan bahwa pasien menjadi ragu-ragu untuk melakukan batuk, nafas dalam, mengganti posisi, ambulasi atau melakukan latihan yang diperlukan. Masalah lain yang sering terjadi adalah ketika pasien merasa terlalu sakit atau nyeri atau faktor lain yang menyebabkan mereka tidak mau melakukan ambulasi dini dan memilih istirahat di tempat tidur (Kozier, dkk 2000). Pada penelitian ini didapat responden mengalami nyeri sedang (Skala 0-3). Pada penelitian responden mendapat terapi analgetik untuk mengurangi nyeri sehingga nyeri yang dirasakan tidak berat.
Hasil uji statistik Chi-square dengan Fisher didapatkan nilai signifikan pengetahuan yaitu p = 1.000. karena p > 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap pelaksanaan ambulasi dini. Menurut Brunner & Suddarth (2002) yang menyatakan bahwa pasien yang sudah diajarkan mengenai gangguan muskuloskeletal akan mengalami peningkatan alternative penanganan. Informasi mengenai apa yang diharapkan termasuk sensasi selama dan setelah penanganan misalnya pemasangan alat fiksasi eksternal, latihan dan alat bantu ambulasi dapat memberanikan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan dan penerapan perawatan. Pada penelitian ini mayoritas responden mempunyai pengetahuan rendah tentang ambulasi. Ini disebabkan kurangnya informasi yang didapatkan oleh pasien selama dirawat di ruangan.
Hasil uji statistik dengan Fisher pada dukungan keluarga didapatkan p = 0.04 karena p < 0.05 maka dapat disimpulkan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan pelaksanaan ambulasi dini. Ini sesuai dengan pernyataan Olson tahun 1996 dalam Hoeman tahun 2001 bahwa perlu banyak dukungan keluarga yang memberikan dukungan dan bantuan pada pasien dalam melakukan latihan ambulasi dini dapat memfasilitas proses penyembuhan. Ini juga sesuai dengan Oldmeadow, dkk (2006) dalam penelitian Yanti (2010) yang menyatakan bahwa dukungan keluarga yaitu orang terdekat dan perawat sangat mempengaruhi untuk membantu pasien melakukan ambulasi dini. Dukungan keluarga merupakan sebagai respon verbal dan non verbal, saran dan bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang akrab dalam subjek didalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengearuh pada tingkah laku penerimanya. Menurut asumsi peneliti dengan adanya keluarga dan teman yang mendampingi pasien dapat memberikan motivasi dan memberi rasa nyaman selama melaksanakan latihan ambulasi dini. Dukungan keluarga dan melibatkan orang terdekat selama perawatan dapat meminimalkan efek gangguan psikososial (Saryono, 2008).


























BAB 5
PENUTUP

5.1. Simpulan
Hasil uji statistik dengan Pearson Chi-square bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara nyeri terhadap pelaksanaan ambulasi dini dengan nilai nyeri p=.357. Hasil uji statistik Fisher untuk pengetahuan didapatkan nilai p=1.000, maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan terhadap pelaksanaan ambulasi dini. Sedangkan untuk hasil uji statistik Fisher dukungan keluarga didapatkan nilai p=.004, maka dapat disimpulkan ada hubungan yang siginfikan antara dukungan keluarga terhadap pelaksanaan ambulasi dini. Dari beberapa faktor yang di identifikasi diketahui bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara faktor nyeri dan pengetahuan terhadap pelaksanaan ambulasi dini pasien fraktur pasca operasi ekstremitas bawah di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.
















DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.  Jakarta: Salemba Medika.
Hidayat, Aziz Alimul. 2012. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Salemba Medika.
Saputra, Lyndon. 2012. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Tangerang : Binarupa Aksara.
Sjamsuhidajat, R & Jong, D.W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C. & Bare, B.G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8. Jakarta : Salemba Medika.
Chanci, Ester dkk. 2010. Patofisioologi Aplikasi Pada Praktek Keperawatan. Jakarta : EGC.
Fauzi A, Rahyussalim,dkk. 2012. Cidera Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Departemen Bedah Divisi Orthopaedi dan Traumatologi FKUI.
Ningsih, Nurma dan Lukman. 2009. Askep pada Klien dengan Gangguan Sistem Muskuloskletetal. Jakarta : Salemba Medika.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar